• gambar
  • gambar
  • header
  • header

Selamat Datang di Website MTs dan MA Wali Songo. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


MTs dan MA Wali Songo

NPSN : 20210743

Jl.Kali Buntung 122 Pucanganom Kebonsari Madiun


info@mts-mawalisongo.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 72758
Pengunjung : 30934
Hari ini : 25
Hits hari ini : 104
Member Online : 1
IP : 34.225.194.102
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

MENELUSURI KADAR ALKOHOL DALAM TAPE DAN HUKUM KEHALALANNYA




Adakah di antara kalian yang tidak mengenal tape? Pasti semua sudah tahu ya karena tape adalah salah satu jajanan rakyat yang sangat mudah dijumpai. Hal ini dimungkinkankarena pembuatan tape relatif mudah selain juga murah bahannya.Atau dimungkinkan juga karena jajanan ini telah ada sejak jaman dahulu atau turun temurun dari nenek moyang kita. Mengapa baru kemungkinan? Karena sejarah asal-usul tape tidaklah diketahui secara pasti. Ada pendapat yang mengatakan bahwa tape berasal dari daerah Jawa yang kemudian dikenal hingga ke daerah lain di hampir seluruh nusantara. Bahkan, tapeternyata tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Filipina, Kamboja, Thailand, dan beberapa negara Asia yang lain. Tape dikenali sebagai basi binubran di Filipina, Chao di Kemboja dan chao-mak di Thailand.

Makanan hasil fermentasi ini, selain memiliki rasa yang lezatjuga bermanfaat bagi kesehatan, di antaranya baik untuk pencernaan, mengontrol tekanan darah, sumber karbohidrat yang baik, mencegah anemia, dan menguatkan tulang. Hal ini karena nutrisi yang terkandung di dalam tape sebagaimnana dilansir dari Daftar Komposisi Bahan Makanan Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP PERSAGI), bahwa di dalam 100 gram tape singkong, terkandung sejumlah nutrisi, meliputi, 173 kandungan kalori, 0,5 gram protein, 0,1 gram lemak, 42, 5 gram karbohidrat, 30 gram kalsium, 30 miligram Fosfor, dan 56 gram Air.

Meskipun demikian, mengkonsumsi tape tidaklah boleh berlebihan. Kita harus memperhatikan jumlah konsumsinya, karena jika terlalu berlebihan justru dapat menimbulkan berbagai efek samping bagi tubuh, di antaranya, meningkatkan risiko masalah pada darah seperti keracunan hingga stroke, terkena virus atau bakteri apabila proses fermentasi kurang bersih dan tepat,dansakit perut karena adanya kandungan alkohol dalam tape.

Loh, tape mengandung alkohol? Ya, mungkin sebagian besar kita sudah mengetahuinya. Namun demikian, mengapa tape tidak pernah difatwakan sebagai makanan yang haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai badan rujukan umat Islam yang berperan aktif dalam mencari solusi atas permasalahan yang berkaitan dengan umat Islam? Nah, inilah yang menjadi topik utama kita pada artikel ini.

Tape merupakan kudapan yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Dr. Anton Apriantono, mantan menteri dan staf pengajar di Insititut Pertanian Bogor, pernah menjelaskan bahwa kadar alkohol tape bervariasi dan meningkat pada hari-hari berikutnya.Pada fermentasi hari pertama, kandungan alkoholnya 1,76 persen dan hari kedua 3,3 persen.Kadar alkohol pada hari ketiga bisa lebih tinggi lagi.Hasil analisis Yulianti (2014) menunjukkan, bahwa kandungan alkohol tape pada fermentasi hari ke-6 mencapai 6,90 persen (tape singkong), 8,94 persen (tape ketan hitam), dan bahkan 11,00 persen (tape beras).

Pertanyaan sederhana yang sering muncul adalah soal mengapa tape yang punya kadar alkohol 7-10 persen disebut halal, sedangkan bir yang hanya 0-3 persen tidak halal.

Ternyata, hukum halal-haram tidak dikaitkan dengan keberadaan senyawa alkoholnya, melainkan sifat atau efek khamr alias efek memabukkannya.Mengapa begitu, karena tidak pernah ada ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa alkohol itu haram. Yang ada, dalil pengharaman khamr sebab mampu menutup akal pikiran alias memabukkan saat dikonsumsi.

Istilah “alkohol” di masa Nabi, belumlah dikenal. Buktinya, sampai hari ini, beberapa produk yang mengandung alkohol sangat akrab bagi kita. Seperti cairan pembersih tangan dan lain-lain.Jika senyawa alkohol haram, maka kita takkan bisa menyantap durian, sirsak, nangka, cempedak masak, yang bisa mengandung alkohol di atas 3 persen.Richa Malhotra (BBC, 2017) pernah menyebutkan bahwa buah yang sangat masak dan jatuh dari pohon bisa mengandung ethanol atau etil alkohol 4,5 persen.

Tapi ulama merekomendasikan, jika makan tape, maka sebaiknya membuang semua cairan di sekitarnya. Bagaimana dengan cairan yang masih menempel pada padatan?Cairan yang masih menempel pada padatan (setelah ditiriskan) termasuk rukshah atau keringanan dari Allah. Ia halal dimakan. Hal ini dianalogkan dengan hukum darah yang masih tersisa dan menempel pada organ dalam ketika seekor binatang halal disembelih secara syar’i.

Nah, kini membahas khamr. Khamr terdiri dari 2 jenis, yaitu yang mengandung alkohol dan tidak. Contoh yang mengandung alkohol yakni bir-bir yang kerap ditemukan di pasar atau klub dan marak diteguk orang, seperti aneka jenis arak masak yakni ang ciu/arak merah, arak putih, arak mie, arak gentong, sake, sari tape, dan lain-lain. Aneka bahan roti beralkohol (rhum, essence beralkohol, dan lain-lain), beraneka cairan yang mengandung alkohol dan keluarganya (metanol, etanol, butanol/spiritus, propanol, dll), serta produk-produk lain, seperti kirsch, brandy, spirits, wine, dan lain-lain.

Soal ang ciu yang kerap dipakai dalam beberapa makanan khas China, chef Haryo Pramoe, pernah berujar jika untuk memutuskan restoran menjual makanan haram atau tidak hanya karena pakai ang ciu, sebaiknya melihat dulu fatwa MUI untuk restoran tersebut.Sebab menurutnya, untuk menghukumi haram dan tidak dalam suatu produk hingga menjadi perdebatan, sungguh panjang prosesnya dan banyak pandangan yang harus dilihat.

Adapun khamr yang tidak mengandung alkohol yakni ganja, morfin, opium, marijuana, sabu-sabu, extacy, serta beraneka jenis obat yang tergolong psikotropika.Psikotropika ini termasuk mukhadirot dan masuk dalam golongan al khamr. Seluruh produk tersebut di atas mengakibatkan mabuk atau tidak sadarkan diri.Khamr pasti 100 persen haram. Diminum sedikitpun tetap haram. Bagaimana dengan bir yang kandungan alkoholnya sangat sedikit, atau bahkan 0 persen sekalipun? Jawabannya haram.

MUI Pusat menghukumi bir 0 persen alkohol tetap haram, karena kedua jenis produk tersebut memenuhi salah satu kaidah fiqih dalam penetapan hukum (haram).

  1. Al hukmu yadluru ma’al illati (Hukum itu ditetapkan karena ada sebab).

Karena beberapa pihak melaporkan bahwa, ternyata ketika mengkonsumsi bir 0 persen alkohol tetap merasa mabuk, maka kedua jenis produk tersebut akhirnya dihukumi haram.

 

  1. Al washilatu illa haramun haram(Segala sesuatu yang menyerupai suatu produk haram, maka dihukumi haram)

Oleh sebab itu, pengimitasian pada produk haram (bir) menjadikan kedua jenis produk tersebut dihukumi haram.Tentu saja hal ini tidak mesti langsung diterima begitu saja. Apalagi jika sebuah produk berdiri di antara hukum haram dan halal. Nah, untuk memastikannya lebih jauh, maka perlu adanya forum diskusi lebih lanjut untuk membahasnya dengan mengacu pada pendapat para ahli dalam bidang Ushul Fiqh dan berbagai rujukan mengenai asal hukum halal dan haram.

Demikianlah kajian mengenai bagaimana kandungan alkohol dalam tape yang tidak serta merta menjadikannya sebagai makanan yang haram. Meski demikian, tetap harus diingat ya bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsinya karena Allah SWT tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan.

 

Dikutip dari sumber:

https://hot.liputan6.com/read/4165170/5-manfaat-tape-singkong-untuk-kesehatan-dan-efek-sampingnya

https://era.id/afair/32263/sama-sama-punya-kadar-alkohol-mengapa-tape-halal-dan-bir-tidak-halal

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas